Di Jepang, ada sistem “Cuti Mengasuh Anak” di mana karyawan bisa mengambil cuti kerja sampai anak menjelang usia 1 tahun dan diberikan jaminan untuk mendapatkan penghasilan dengan jumlah tertentu.

Sistem ini bisa digunakan baik oleh karyawan wanita maupun pria, namun masih sedikit karyawan pria yang memanfaatkan sistem ini. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai macam upaya untuk mempromosikan sistem ini dengan tujuan agar karyawan pria mulai memanfaatkan cuti mengasuh anak.

Mungkin banyak yang berpendapat bahwa pria mengambil cuti bekerja untuk mengasuh anak bukanlah suatu hal yang diperlukan, namun adanya masalah sosial yang dihadapi Jepang saat ini melatarbelakangi pemerintah untuk berinisiatif membuat karyawan pria agar mulai mengambil cuti mengasuh anak.

Mengambil Cuti Mengasuh Anak untuk Pria

Beberapa tahun ke belakang adalah hal yang umum ketika karyawan wanita yang sudah menikah atau baru melahirkan anak memutuskan untuk berhenti bekerja. Namun, akhir-akhir ini hampir 40% karyawan wanita memilih kembali bekerja setelah mereka cuti melahirkan atau cuti mengasuh anak. Dan hampir 80% karyawan wanita selain mengambil cuti melahirkan, mereka juga mengambil cuti mengasuh anak.
https://kepojepang.com/cuti-hamil-di-perusahaan-jepang/
https://kepojepang.com/cuti-mengasuh-anak-perusahaan-jepang/
Di sisi lain, karyawan pria yang mengambil cuti mengasuh anak hanya sekitar 6%. Akan tetapi, angka 6% ini jika dibandingkan dengan 20 tahun lalu yang tidak mencapai 1% sekalipun dianggap sebagai hasil yang sangat memuaskan. (Sebagai tambahan, karena pria tidak mendapatkan cuti melahirkan, angka 6% ini diperoleh dari total rasio karyawan pria yang istrinya melahirkan.)

Kontribusi pria Jepang dalam mengurus rumah tangga dan mengurus anak dianggap paling rendah dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, hal ini memberikan dampak negatif terhadap wanita yang ingin terus bekerja dan memiliki anak. Oleh karena itu, hal ini pun menjadi salah satu penyebab rendahnya angka kelahiran dan kekurangan tenaga kerja.

Sebagian besar pasangan suami istri di Jepang hidup terpisah dengan orang tua mereka dan membesarkan anak tanpa bantuan dari keluarga mereka. Oleh karena itu, berpartisipasi atau tidaknya pria dalam pengasuhan anak bergantung pada beban yang dimiliki wanita.

Penyebab Sulitnya Cuti Mengasuh Anak untuk Pria

Pria yang mengambil cuti mengurus anak berjumlah sekitar 6% yang artinya 94% dari karyawan pria tidak memiliki niatan untuk membantu pengasuhan anak. Hal ini disebabkan hampir 30% pria yang berpikir untuk mengambil cuti melahirkan tidak bisa mendapatkan cuti tersebut.

Penyebab karyawan pria tidak bisa mengambil cuti melahirkan adalah,
・Tidak ada karyawan pengganti sehingga akan merepotkan pihak lain
・Pendapatannya akan menjadi minus atau berkurang
・Berdampak negatif terhadap pengajuan promosi setelah kembali bekerja, selain itu, ada kemungkinan mendapatkan perlakuan yang tidak masuk akal
・Sulit untuk mengajukan permohonan di tempat kerja yang sebelumnya tidak pernah ada karyawan pria yang cuti mengurus anak
・Atasan yang tidak pengertian
dan lain sebagainya.
Beberapa tahun ke belakang, pandangan umum di Jepang pun menganggap bahwa yang bekerja adalah pria dan wanita bagian mengurus rumah. Itu adalah cerita masa lalu, berdasarkan survei sebuah surat kabar, saat ini hampir 80% pria di setiap generasi berharap bahwa urusan rumah tangga dan pekerjaan bisa dikerjakan bersama-sama.

Akan tetapi, masalahnya adalah masih sedikit perusahaan yang karyawan prianya mengambil cuti mengasuh anak, belum lagi sebagian besar karyawan pria yang ingin mengambil cuti melahirkan beranggapan bahwa mereka tidak akan mendapatkan pengertian baik dari atasan maupun kolega kerja.

Upaya Dukungan agar Karyawan Pria Mengambil Cuti Melahirkan

Cuti Mengurus Anak Plus Ayah Ibu dan Cuti Bekerja untuk Ayah

Baik karyawan pria maupun wanita akan mendapatkan tunjangan bayaran ketika mereka mengambil cuti mengasuh anak, selain itu mereka pun dibebaskan dari pembayaran asuransi. Selain kebijakan seperti ini, akhir-akhir ini pun diberlakukan beberapa kebijakan tambahan untuk mempromosikan cuti mengasuh anak agar dimanfaatkan oleh karyawan pria.

Berbeda dengan cuti mengurus anak biasa yang periodenya hanya sampai anak menjelang umur 1 tahun, cuti mengurus anak plus ayah ibu adalah sistem di mana ayah dan ibu bisa mengambil cuti mengasuh anak secara bersamaan dengan periode lebih panjang sampai 1 tahun 2 bulan.

Sebagai tambahan, ada juga sistem “Cuti Bekerja untuk Ayah” yang dikhususkan untuk karyawan pria. Ini adalah sistem di mana pria yang sudah pernah mengambil cuti mengasuh anak sejak istri cuti setelah melahirkan (selama 8 minggu) bisa mengambil cuti lagi sesuai dengan waktu yang mereka inginkan sampai anak mereka berumur 1 tahun (atau 1 tahun 2 bulan). Setelah istri melahirkan sebisa mungkin mereka harus beristirahat, oleh karena itu suami bisa mengambil cuti dan kembali bekerja menyesuaikan dengan keadaan di tempat kerja. Selain itu, semisal istri kelelahan setelah 2 sampai 3 bulan atau ketika istri kembali bekerja, suami bisa kembali mengambil cuti mengasuh anak kapanpun dengan periode yang disesuaikan dengan kebutuhan diri sendiri.

“Proyek Ikumen (Ayah yang Mengurus Anak)” dari Pemerintah untuk Perusahaan

Ikumen adalah istilah yang artinya pria yang menikmati pengasuhan anak dan berpartisipasi secara aktif dalam mengasuh dan membesarkan anak. Proyek Ikumen sendiri adalah program yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan dengan tujuan semakin meningkatnya pria ikumen untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Proyek ini sendiri dilangsungkan dengan pelaksanaan berbagai jenis seminar, pemberian bantuan bagi perusahaan dan daerah yang merekomendasikan cuti mengasuh anak untuk karyawan pria dengan tujuan meningkatkan rasio jumlah karyawan pria yang mengambil cuti mengasuh anak. Misalnya, memberikan penghargaan publik kepada perusahaan yang secara aktif mendukung pelaksanaan Proyek Ikumen. Penghargaan diberikan kepada perusahaan yang merekomendasikan keseimbangan dalam bekerja dan mengasuh anak kepada karyawan mereka, perusahaan yang berusaha meningkatkan sistem kerja karyawan, atau perusahaan yang terlibat dalam kegiatan eksternal yang mendorong pria untuk terlibat aktif dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Dengan adanya sistem penghargaan ini, mungkin sekilas terlihat tak berarti tapi hal ini akan membantu meningkatkan citra perusahaan tersebut. Pihak perusahaan pun, dengan memperbaiki lingkungan kerja dan meningkatkan kesejahteraan para karyawan, tidak hanya mendapatkan penghargaan pemerintah yang bisa dijadikan sebagai pembuktian saja, tetapi juga bisa meningkatkan daya tarik perusahaan di mata orang lain, sehingga akan menarik minat pencari kerja yang berbakat.
https://kepojepang.com/memperbaiki-program-kesejahteraan/
Selain itu, perusahaan yang merekomendasikan cuti mengasuh anak untuk karyawan pria akan mendapatkan bantuan subsidi apabila memenuhi persyaratan. Dengan adanya bantuan subsidi ini, perusahaan bisa meningkatkan kesejahteraan di lingkungan kerja bagi seluruh karyawan.

Kesimpulan

Target Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan untuk pria yang mengambil cuti mengasuh di tahun 2020 adalah 13%. Apakah ini akan berhasil atau tidak, setidaknya jumlah pria yang mengambil cuti mengasuh anak semakin meningkat. Semakin banyak karyawan pria yang mengambil cuti mengasuh anak, maka ada kemungkinan suatu saat nanti rasio pria yang mengambil cuti ini akan semakin meroket.

Di Jepang yang angka kelahirannya terus menurun, sangatlah penting untuk menciptakan masyarakat baik pria, perusahaan, pemerintah maupun daerah yang bisa bekerja sama untuk membantu kaum wanita dalam pengasuhan dan perawatan anak.
https://kepojepang.com/penyebab-penurunan-angka-kelahiran/