Sponsor LINK

Ringkasan Berita Jepang

Dengan adanya penyebaran infeksi virus corona, muncul masalah baru di mana karyawan tetap harus pergi ke kantor untuk membubuhkan cap pada dokumen yang diperlukan walaupun perusahaan mereka memberlakukan sistem bekerja di rumah (WFH).

Dengan munculnya permasalahan ini, diketahui bahwa prefektur Yamanashi sebagai produsen hanko terbesar di Jepang mulai mengembangkan perangkat (device) yang bisa membaca “informasi segel/cap” hanko asli ke dalam dokumen digital tetapi bukan “hanko digital”.

Device yang dimaksud adalah pemindai atau scanner yang bentuknya seperti pembaca/reader IC Card (kartu elektronik), dengan tujuan untuk digunakan ketika ada perjanjian-perjanjian penting di mana klien tidak bisa bertatap muka secara langsung. Ini bukanlah tiruan hanko dalam bentuk digital, sebagai pusat tempat memproduksi hanko asli yang digunakan, Yamanashi sedang meneliti bagaimana caranya sebuah perangkat agar bisa membaca hanko yang asli.. 

Gubernur prefektur Yamanashi dan Serikat Pekerja Pembuat Hanko menolak opini yang disampaikan beberapa politisi dan asosiasi perekonomian yang mengatakan bahwa “hanko tidak diperlukan”, bekerja di rumah (WFH) sangat berkaitan erat dengan ketidakbutuhan terhadap hanko dan hanko hanya diperlukan ketika masing-masing pihak secara tegas ingin mengonfirmasi maksud dan tujuan pihak lain.

Pendapat tentang Berita

Mengapa Tetap Harus Datang ke Kantor untuk Membubuhkan Hanko?

Walaupun saat ini dianjurkan untuk bekerja di rumah (WFH), muncul masalah di mana kebanyakan orang harus tetap datang ke kantor untuk mencap dokumen yang diperlukan. Tapi sebenarnya, opini tentang hanko tidak diperlukan di tempat kerja sudah ada sejak lama.

Di tempat kerja hanko memang digunakan untuk beberapa hal, tapi secara hukum tanda tangan digital juga diperbolehkan, contohnya seperti dalam surat perjanjian dengan perusahaan lain, bahkan beberapa dokumen di dalam perusahaan pun sudah banyak yang didigitalisasi dan disebarluaskan melalui perangkat groupware.

Sebagian besar perusahaan beranggapan bahwa “sistem hanko memang merepotkan tapi mengubah sistem ini akan jauh lebih merepotkan”, jadinya masih banyak perusahaan yang belum melakukan upaya secara nyata untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan dengan mengurangi legalisasi dokumen yang menggunakan hanko. Oleh karena itu, kali ini perihal mengenai hanko ini kembali dijadikan perhatian.

Apakah Budaya Hanko akan Bertahan

Negara-negara lain termasuk Indonesia umumnya menggunakan tanda tangan orang yang bersangkutan ketika bermaksud mengonfirmasi maksud dan tujuan orang tersebut. Sebaliknya di Jepang, siapapun pasti memiliki hanko. Hanko banyak digunakan untuk banyak hal seperti pengurusan administrasi pekerjaan, pembukaan rekening Bank dan ketika melakukan kontak penggunaan smartphone.

Lalu, apakah budaya hanko Jepang yang tidak berlaku di dunia dan kurang efisien ini akan membingungkan warga asing yang datang ke Jepang? Akankah budaya ini menghilang di kemudian hari? 

Bagi saya, tidak jadi masalah jika hanko digunakan hanya untuk validasi beberapa hal di tempat kerja, namun jika budaya ini hilang pun tidak jadi masalah, saya rasa akan jauh lebih praktis jika penggunaan tanda tangan elektronik semakin meningkat.

Di sisi lain, perasaan bahagia ketika mendapatkan hadiah hanko dari orang tua, perasaan gugup ketika membubuhkan hanko saat membuat rekening Bank untuk pertama kalinya, keberadaan sebuah barang bernama hanko yang menciptakan begitu banyak cerita sepanjang perjalanan hidup manusia, jika sepenuhnya menghilang, saya sendiri akan merasa sedih. Oleh karena itu, saya sendiri berharap para pembuat hanko dan penjual hanko berusaha mencari berbagai macam cara agar keberadaan hanko bisa dipertahankan, saya sendiri merasakan perasaan yang rumit tentang hal ini.

Ngomong-ngomong, 99% hanko di Jepang diproduksi dengan mesin ukir dan 1% lebih dibuat dengan ukiran tangan. Hampir 66% hanko yang dibuat oleh tangan, diproduksi di prefektur Yamanashi yang disebutkan pada artikel di atas.