Sponsor LINK

Ringkasan Berita Jepang

Berdasarkan survei (2019) yang dilakukan terhadap 150 pria dan wanita yang berusia 17-29 tahun di Jepang, ada 20% orang yang berhenti dan memutuskan untuk berhenti bekerja setelah 3 tahun bergabung dengan perusahaan, selain itu diketahui sekitar 50% ragu-ragu apakah mereka akan berhenti atau tidak.

Lebih dari 30% yang ragu-ragu untuk berhenti menyatakan bahwa alasan mereka ingin berhenti adalah “Hubungan antar sesama yang tidak baik”. Kemudian, alasan lain yang mereka sampaikan seperti “lingkungan tempat kerja yang tidak baik (black company)”, “ketidakpuasan terhadap apa yang dikerjakan”, “perbedaan jauh antara harapan dan kenyataan” dan sebagainya.

Sumber:Dalam kurun waktu 3 tahun setelah bergabung dengan perusahaan berapa banyak anak muda yang “berhenti” dan “ingin berhenti”?

Pendapat tentang Berita

Aku juga pernah dengar masalah ini, walaupun akhirnya bisa bekerja, setelah 3 tahun bekerja di perusahaan, hampir 50% karyawan pada berhenti. Kalau dilihat dari survei ini sih, hampir setengahnya dari yang jawab “ragu-ragu”, kurang dari setahun akhirnya pada berhenti, jadi bisa dibilang “dalam waktu 3 tahun cuma 50% yang tersisa”.

Tadinya aku pikir “black company” bakal jadi alasan utama mereka pengen berhenti, ternyata bukan itu, malahan aku kaget waktu tahu ternyata “hubungan antar sesama” jadi alasan yang paling banyak mereka ungkapin. Sebelumnya aku juga pernah denger sih kalo “hubungan antar sesama” ini jadi alasan utama kenapa banyak pekerja yang gak bertahan, dan ini jadi penyebab kurangnya tenaga kerja terutama di bidang pendidikan tingkat dini dan keperawatan. Contoh hubungan antar sesama di sini tuh bukan kaya “rekan kerja yang kepribadiannya ga cocok sama kita” tapi lebih ke tekanan dari atasan (power harassment) atau ada bullying (moral harassment). Kalau gak ada dua hal ini, orang Jepang yang terkenal tekun gak bakalan keluar cuma karena “hubungan antar sesama” yang bikin gak enak.

Susah sih memprediksi gimana hubungan antar sesama sebelum masuk kerja, bisa dibilang ini soal keberuntungan. Hari pertama bekerja, pas pergi ke kantor ternyata ada senior yang bully juniornya! Pas lagi nyari pekerjaan, mahasiswa tentu aja gak bakalan tahu masalah-masalah kaya gini. Ada aja sih karyawan yang bilang kalau “saya gak berani berhenti walaupun sudah bekerja 3 tahun”, tapi sebenernya buat orang tersebut ini tuh masalah yang besar, jadi siapapun gak bisa nyalahin dia.

Perusahaan bisa aja nyesuain sistem kerja yang ada, mengontrol jam kerja yang berlebih dan ngasih perlakuan yang sepadan ke karyawannya, semuanya bisa diwujudkan kalau atasan tiap perusahaan mau berusaha ngelakuinnya. Tapi, masalah “hubungan antar sesama” ini tuh kebanyakan di luar sistem yang ada, makanya hal ini bukan satu-satunya masalah yang harus diperhatiin sama pihak atasan dan perusahaan.

Akhir-akhir ini, di Jepang juga banyak orang yang terus-terusan ganti pekerjaan, gak harus jadi pekerja tetap. Kalau tempat kerjanya dirasa gak masuk akal, lebih banyak orang milih buat berhenti di awal. Di Jepang banyak banget perusahaan yang kekurangan tenaga kerja, makanya sekarang jarang ada orang yang punya pikiran “kalau saya berhenti bekerja, mungkin saya gak bakalan bisa mendapatkan pekerjaan lagi seumur hidup.”