Sponsor LINK

Ringkasan Berita Jepang

Berdasarkan survei yang dilakukan untuk pertama kalinya pada tahun ini, latar belakang rendahnya jumlah pria yang mengambil cuti mengasuh anak adalah “keadaan di kantor” yang dijawab oleh 32,9% orang, kemudian hasil lainnya menjawab “kekurangan karyawan” dan “atasan yang tidak mengerti”. Selain itu, berdasarkan survei yang sama, dapat diketahui bahwa banyak orang yang beranggapan mengambil cuti pengasuhan anak akan menimbulkan rasa tidak suka dari atasan. Cuti pengasuhan anak merupakan hak setiap pekerja yang sudah ditetapkan oleh hukum, oleh karena itu pihak perusahaan tidak bisa menolak permintaan cuti. Akan tetapi, tampaknya banyak tempat kerja yang menciptakan suasana di mana mereka mempersulit izin cuti dengan alasan kurangnya tenaga kerja dan menekan karyawan dengan menghubungkannya dengan kenaikan gaji dan promosi jabatan.

Sebagai tambahan, persentase karyawan pria yang mengambil cuti pengasuhan anak pada tahun 2018 adalah 6,16%, namun pemerintah berharap hal ini akan meningkat 30% dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.

Sumber:Atasan yang berkata “apakah Anda belum berhenti?” Fakta tentang ayah yang mengambil cuti pengasuhan anak.

Pendapat tentang Berita

Kalau salah satu karyawan ada yang mau ngambil cuti, mau ga mau perusahaan harus nyiapin karyawan yang lebih banyak dari biasanya, tapi hal ini juga pastinya perlu penambahan biaya, jadi emang pasti sulit sih buat perusahaan. Buat hal ini sendiri, seenggaknya setiap perusahaan harus mulai numbuhin pemikiran sama kebiasaan buat saling bantu satu sama lain biar bisa menciptakan suasana kantor di mana karyawan bias dengan mudah ambil cuti mengasuh anak

Tapi ya, masih banyak loh orang Jepang yang punya pemikiran “pria bekerja, wanita di rumah”, terutama orang yang udah tua pasti bilang “waktu zaman saya, ga ada tuh pria ambil cuti mengurus anak”. Karena orang tua aku juga dari generasi yang sama, jadi gampang banget ngebayanginnya. Emang susah sih nyiptain suasana dan pemikiran “kalau ada yang ngambil cuti pasti bisa saling bantu dan melewati kesulitan bersama”.

Bahkan sekarang aja, kebanyakan ayah muda kesulitan pilih antara karier (terutama penghasilan) sama keluarga. Bukan cuman pemerintah aja, kalau masyarakat sama perusahaan ga bekerja sama buat menciptakan reformasi sistem dan kesadaran soal masalah ini, kayanya harapan pria yang ngambil cuti bisa mencapai 30% bakalan cuman jadi mimpi aja.