Sponsor LINK

Ringkasan Berita Jepang

Deklarasi darurat untuk mencegah penyebaran virus corona telah dicabut, dan ada kekhawatiran terhadap aktifnya kembali penggunaan transportasi kereta di Tokyo, yang juga menjadi transportasi terkenal di Tokyo, terutama saat jam sibuk. Sementara itu, selama menjalani “gaya hidup baru (new normal)” yang diumumkan oleh pemerintah Jepang, masyarakat disarankan untuk menggunakan sepeda di samping menggunakan transportasi umum.

Menurut suatu survei terhadap orang-orang yang bepergian dengan sepeda di Tokyo pada Juni ini, sebanyak 23% mengatakan bahwa mereka mulai bepergian dengan sepeda setelah munculnya pandemi corona. Tentu alasannya adalah untuk menghindari bepergian dengan transportasi umum seperti kereta atau bus.

Tampaknya, semakin banyak perusahaan di Jepang yang mulai merekomendasikan perjalanan dengan sepeda. Hal ini dibuktikan oleh sebanyak 32% responden survei yang mengatakan, “Terdapat pengumuman dari perusahaan mereka yang menyatakan merekomendasikan perjalanan dengan sepeda.”

Selain itu, di daerah metropolitan Tokyo, sebanyak 50% responden menjawab bahwa tempat kerja mereka mengizinkan penggunaan sepeda untuk pulang pergi bahkan sebelum deklarasi darurat dikeluarkan.

Sumber: Perjalanan ke Kantor dengan Sepeda Meningkat Karena Pandemi Corona
Setengah dari Perusahaan di Tokyo Mulai Mengizinkan Penggunaan Sepeda, bahkan Mulai Secara Aktif Merekomendasikannya

Pendapat tentang Berit

Isu “Transportasi Kerja dengan Sepeda di Tokyo”

Beberapa orang mungkin merasa heran dengan ungkapan, “Sebanyak 50% perusahaan di Tokyo mengizinkan perjalanan dengan sepeda.” Sebenarnya, banyak perusahaan Jepang, terutama perusahaan di perkotaan, yang melarang karyawannya bepergian dengan sepeda atau bepergian menggunakan transportasi selain transportasi publik.

Alasan utamanya adalah karena penggunaan transportasi pribadi dianggap dapat menyebabkan kecelakaan. Jika pihak ketiga terluka saat bepergian, perusahaan mungkin harus bertanggung jawab atas kerugian pihak ketiga tersebut. Selain itu, bahkan dalam kasus kecelakaan tunggal saat sedang pergi ke kantor, beban kerja di perusahaan dapat meningkat karena hal itu diperuntukkan pada asuransi kecelakaan pekerja. Karena alasan tersebut, banyak perusahaan menetapkan batasan pada cara bepergian ke kantor dalam aturan kerja perusahaan.

Untuk menghindari risiko penyebaran virus, tampaknya banyak perusahaan yang mulai mengizinkan penggunaan sepeda untuk bepergian dengan sistem izin bersyarat. Namun, sebagai contoh, umumnya hal itu terbatas pada pengguna yang memiliki sepeda dengan tanda TS (traffic safety/keselamatan lalu lintas) yang telah diperiksa oleh seorang profesional dan terbukti memiliki asuransi kecelakaan dan asuransi tanggungan wajib, dan pengguna sepeda diharuskan untuk mengambil asuransi sepeda dengan tanggungan wajib.

Selain itu, dikatakan bahwa tidak ada tempat parkir sepeda di tempat kerja, dan jalur sepeda juga sedikit, sehingga mungkin akan cukup sulit untuk mengendarai sepeda dengan aman dan nyaman.

Mari Pergi Bekerja dengan Aman dan Nyaman

Tampaknya penggunaan sepeda sedang populer di Jakarta. Jumlah orang yang mengendarai sepeda tiba-tiba meningkat, sehingga Kementerian Perhubungan bergegas merumuskan peraturan dalam hal jalur bersepeda di jalan.

Banyak orang di Tokyo dan Jakarta merasa kurang nyaman dengan transportasi kereta yang ramai pada jam-jam sibuk, sehingga saat ini sepertinya akan sangat baik jika penggunaan sepeda untuk pergi ke kantor semakin meluas. Namun, terdapat juga hal-hal yang perlu diperhatikan, seperti setiap pengendara wajib mematuhi peraturan lalu lintas, dan jalur sepeda juga harus diatur dengan baik agar para pengguna sepeda dapat berlari dengan mudah.

Sebenarnya, ketika aku berjalan di sepanjang jalan-jalan di Tokyo, terkadang aku merasa kewalahan untuk menghindari sepeda yang berlari dengan kecepatan tinggi. Kalau di Indonesia, bagaimana etika teman-teman saat menggunakan sepeda?