Sponsor LINK

Ringkasan Berita Jepang

Menurut suatu survei yang dilakukan terhadap 500 mahasiswa asing di Jepang yang ingin bekerja di Jepang dan yang telah mulai bekerja di Jepang setelah lulus mengenai hal yang dirasa aneh dalam sistem pencarian kerja di Jepang, diketahui bahwa terdapat tiga hal utama yang dianggap mengherankan, yaitu “sistem perekrutan lulusan baru secara simultan (65,4%)”, diikuti oleh “aturan dalam jadwal seleksi perekrutan (62,1%)”, serta “dimulainya pekerjaan dari April (59,3%)”.

Selain itu, mengenai “hal yang dirasa kurang wajar dalam pekerjaan atau perekrutan karyawan perusahaan Jepang”, banyak yang menjawab bahwa “sistem kerja seumur hidup (62,5%)”, “pemindahan lokasi kerja yang tidak diinginkan (59,5%)”, “upah berbasis senioritas atau peningkatan upah berdasarkan lamanya kerja (54%)”, dan sebagainya terasa cukup mengherankan.

Perekrutan lulusan baru secara simultan, pekerjaan seumur hidup, upah berbasis senioritas, dan sistem kerja lainnya yang berlaku di Jepang dianggap unik oleh dunia, karena hal tersebut tidak umum di negara lain. Akan tetapi, sistem yang tampak kuno ini mungkin dianggap menjadi penghalang ketika perusahaan berpikir untuk merekrut pekerja asing yang memiliki kemampuan tinggi.

Sumber:Lebih dari 60% Mahasiswa Asing Merasa Aneh dengan “Sistem Kerja Seumur Hidup” dan “Perekrutan Lulusan Baru Secara Simultan” pada Perusahaan Jepang

Pendapat tentang Berita

Apa yang Dimaksud dengan “Perekrutan Lulusan baru Secara Simultan” Perusahaan Jepang?

“Perekrutan Lulusan Baru Secara Simultan” mengacu pada “sistem untuk merekrut mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang akan lulus secara simultan, sehingga perekrutan dilakukan saat mahasiswa masih belajar di kampus, dan mereka mulai dipekerjakan segera setelah lulus”.

Aku dengar kalau di Indonesia, ada berbagai cara untuk mencari pekerjaan, seperti melamar lowongan kerja dan memutuskan untuk mendapatkan pekerjaan sebelum lulus, mencari pekerjaan dengan menghadiri job fair setelah lulus, melamar lowongan kerja di internet, dan sebagainya. Ini berarti bahwa waktu masuk karyawan baru akan bervariasi tergantung pada kebijakan perusahaan dan orang yang melamar pekerjaan tersebut. Di kebanyakan negara lainnya, tidakkah sistem seperti itu dianggap umum?

Di sisi lain, di Jepang, banyak perusahaan merekrut lulusan baru sebagai simultan, sehingga mahasiswa berpartisipasi dalam job fair selama kuliah, melamar lowongan kerja, mengikuti wawancara, hingga akhirnya menerima tawaran pekerjaan, bersamaan dengan pelamar lainnya. Mekanisme ini memiliki keuntungan bagi mahasiswa, karena mereka memiliki kesempatan untuk bergabung dengan perusahaan besar yang telah lama dinantikan, tanpa perlu memiliki pengalaman atau keterampilan kerja sebelumnya.

Namun, jika melewatkan waktu perekrutan lulusan baru, jumlah tawaran pekerjaan akan segera berkurang dan akan sulit juga untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga terdapat tekanan untuk tidak boleh gagal. Lulusan baru yang dimaksud adalah “mahasiswa yang akan lulus tahun berikutnya”, sehingga mereka akan bergabung dengan perusahaan “segera setelah lulus (biasanya pada awal April)”. Jadi, jika baru mencari pekerjaan setelah lulus, hal itu dianggap sudah terlambat di Jepang.

Sistem Perekrutan Lulusan Baru Secara Simultan yang Dituntut untuk Berubah

Di daerah perkotaan seperti Tokyo yang merupakan tempat banyak perusahaan berkumpul, setiap tahun di waktu tertentu, akan terlihat banyak mahasiswa sedang mencari pekerjaan dengan setelan pakaian jas hitam, sepatu kulit hitam, dan tas kulit hitam. Meskipun hal itu sudah lumrah bagi orang Jepang, kebanyakan mahasiswa asing yang aku kenal berpendapat bahwa mereka merasa sungguh heran dengan penampilan unik dari para pencari pekerjaan.

Bahkan, jika melihat buku panduan untuk mencari pekerjaan, tertulis berbagai penjelasan tidak hanya mengenai pakaian, tetapi juga mengenai gaya rambut dan make-up. Aku pun yang merupakan orang Jepang, juga ikut heran dan merasa, “Apa benar dijelaskan hingga sedetail itu?”

Di tengah era globalisasi ini, sistem perekrutan lulusan baru di Jepang dituntut untuk berubah. Di satu sisi, aku ingin sistem yang sudah dianggap kuno tersebut sedikit diubah, tetapi di sisi lain, seandainya sistem itu benar-benar diubah, sebagai salah satu mahasiswa yang mungkin harus menjalani sistem baru tersebut, aku juga merasa sedikit cemas.