Sponsor LINK

Ringkasan Berita Jepang

Pada bulan April 2019, mulai diberlakukan status izin tinggal baru bernama “Tokutei Ginou (Keterampilan Khusus)” yang ditujukan untuk menerima lebih banyak pekerja asing. Jepang dengan masalah kurangnya tenaga kerja mulai menggunakan sistem ini dengan harapan bisa menerima paling banyak 50.000 orang di tahun pertama. Namun pada kenyataannya, sampai akhir bulan Februari 2020, jumlah awal hanya mencapai sekitar 3.000 orang dan kemungkinan tidak meningkat seperti yang diharapkan. (※ada sekitar 4.000 orang sampai akhir Maret)

Salah satu penyebab jumlah pekerja asing tidak memenuhi harapan adalah kurangnya persiapan. Untuk mendapatkan visa Tokutei Ginou, pekerja asing diharuskan lulus ujian kemampuan bahasa Jepang dan ujian keterampilan khusus, namun, persiapan pelaksanaan ujian dan koordinasi dengan pihak penanggung jawab di setiap negara yang bermaksud mengirimkan pekerja mereka ke Jepang kurang berjalan dengan baik. 

Selain itu, dengan adanya penyebaran infeksi virus corona diberlakukan pembatasan yang semakin mempersulit kedatangan dan keberangkatan orang-orang dari beberapa negara. Oleh karena itu, beberapa tempat kerja mengalami kesulitan karena tidak bisa memenuhi jumlah tenaga kerja yang diharapkan. Akan tetapi, baik setiap negara Asia yang akan mengirimkan pekerja maupun pihak Jepang mulai menyusun persiapan, sehingga ke depannya orang-orang yang bekerja dengan menggunakan sistem Tokutei Ginou perlahan-lahan akan semakin meningkat.

Sumber:Pekerja Asing Mengalami Peningkatan? Tahun Pertama Penerapan Sistem Visa Baru Cukup Bermasalah karena Kurangnya Persiapan

Pendapat tentang Berita

Realitas Mengenai Kurangnya Persiapan Sistem Baru “Tokutei Ginou”

Saat ini, 9 negara termasuk Indonesia, Vietnam, Filipina dan sebagainya menjadi tujuan pemberlakuan sistem Tokutei Ginou dengan 14 jenis industri yang ditawarkan. Berdasarkan rencana, pada bulan Juni 2020, ujian bahasa Jepang dan ujian keterampilan khusus untuk setiap industri akan dilaksanakan di 4 negara, jumlah industri yang dijadwalkan untuk pengujian pun ada 4.

Sebenarnya ada beberapa tes yang sudah dilaksanakan di tahun 2019, tapi karena adanya virus corona, bisa dikatakan sistem ini hampir belum dimulai sama sekali.

Sampai saat ini, ujian yang dijadwalkan akan dilaksanakan di Indonesia adalah ujian bahasa Jepang dan ujian keterampilan khusus di bidang keperawatan saja. Ngomong-ngomong, orang Indonesia yang sekarang bekerja di Jepang dengan status Tokutei Ginou ada sekitar 500 orang. 

“Tokutei Ginou” Diharapkan Berjalan dengan Lancar

Implementasi ujian di negara-negara yang dituju tidak mengalami kemajuan, mereka yang saat ini telah memperoleh visa Tokutei Ginou umumnya adalah mantan Jisshuusei (karyawan magang) dan pelajar asing.

Menurut survei, hampir 60% warga asing yang sedang belajar di Jepang memiliki keinginan untuk bekerja di Jepang. Sebenarnya, pelajar asing dari Asia Tenggara yang ada di sekitar saya juga hampir semuanya ingin kerja di Jepang. Saat ini, rasio pencari kerja yang berasal dari pelajar asing mencapai sekitar 20%, tapi, jika perusahaan yang menerapkan sistem Tokutei Ginou semakin banyak maka jumlah pelajar asing yang mencari kerja pun mungkin akan meningkat. 

Saya juga berharap sistem Tokutei Ginou ini akan semakin mudah digunakan bagi teman-teman saya yang “menyukai Jepang” dan “ingin mendapatkan gaji yang tinggi untuk dikirim ke kampung halaman”. Untuk hal ini pun, saya mengharapkan pemerintah Jepang dan perusahaan-perusahaan secepat mungkin menyusun persiapan dengan sungguh-sungguh.

Mungkin akan ada berbagai macam rintangan untuk membuat sistem ini dikenal di setiap negara, mendirikan pusat ujian dan membentuk pihak penanggung jawab sampai bisa menjalankan sistem ini tanpa masalah. Sebagai orang yang memiliki pengalaman mengurus berbagai macam keperluan administrasi baik di Jepang maupun di Indonesia saya pikir kesulitan ini pasti terjadi. Namun, karena melihat keterlambatan yang terjadi saya juga merasa “apakah persiapannya terlalu makan waktu?” , ataukah prospeknya yang tidak mencukupi?