Sponsor LINK

Ringkasan Berita Jepang

Pada tahun 2019, ada sekitar 370.000 peserta magang di Jepang, yang setengahnya adalah orang Vietnam. Saat semakin banyak orang Vietnam yang aktif magang di Jepang, jumlah konsultasi dalam bahasa Vietnam di Organisasi Pelatihan Pekerja Magang Asing juga semakin meningkat, misalnya konsultasi mengenai “kondisi kerja seperti upah dan lembur”, serta permasalahan “manajemen yang dianggap tidak tepat”. Masalah seperti ini mulai muncul ke permukaan.

Masa tinggal peserta magang adalah hingga 5 tahun. Akan tetapi saat ini, Jepang telah memberlakukan status kependudukan “Pekerja dengan Keterampilan Khusus” sejak April 2019, sehingga para peserta magang dimungkinkan untuk memperpanjang masa tinggal selama lebih dari 5 tahun setelah periode magang berakhir. Untuk dapat bekerja lebih lama di Jepang, sekitar 70% peserta magang ingin beralih dari ‘peserta magang dengan pelatihan teknis’ (ginou jisshuu) menjadi ‘pekerja dengan keterampilan khusus’ (tokutei ginou).

Mengenai jumlah pekerja asing dengan keterampilan khusus yang akan diterima, pemerintah Jepang telah menetapkan target sebanyak 350.000 pekerja asing dalam waktu 5 tahun sejak mulai diberlakukannya sistem kebijakan tersebut. Jika setengah dari mereka adalah orang Vietnam, jumlah orang Vietnam yang bekerja di Jepang mungkin akan menjadi sekitar 500.000 orang. Sepertinya, para pekerja asing perlu menghindari perusahaan gelap yang cenderung melakukan eksploitasi terhadap pekerja asing, dan Jepang perlu menempatkan mereka sebagai kelompok sumber daya manusia yang penting dan terbesar di samping memberi perhatian pada para pekerja Jepang.

Sumber: Peningkatan Jumlah Para Pekerja Magang Masalah Penyebaran Informasi dan Perlakuan terhadap Pekerja Asing

Pendapat tentang Berita

Apa yang Dimaksud dengan “Keterampilan Khusus” bagi Para Peserta Magang dan Perusahaan Penerima Pekerja Asing?

Pelatihan keterampilan khusus adalah suatu sistem penerimaan pekerja asing oleh perusahaan Jepang, dan para pekerja asing tersebut mendapat pelatihan keterampilan khusus sambil bekerja di perusahaan penerima, agar keterampilan yang mereka peroleh di Jepang dapat diterapkan untuk berkontribusi pada pengembangan negara mereka sendiri.

Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan Jepang seharusnya tidak memperlakukan para peserta magang sebagai “tenaga kerja” murni. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit jumlah kasus mengenai perusahaan Jepang yang menerima peserta magang hanya untuk memperoleh sumber daya manusia. Hal itu karena orang muda Jepang cenderung segera berhenti bekerja, tetapi pekerja asing pada dasarnya tidak berhenti, sehingga banyak pemilik bisnis berpikir bahwa mereka dapat mengandalkan pekerja asing lebih dari pekerja Jepang bahkan hingga 5 tahun.

Bahkan di antara peserta magang, tampaknya banyak yang tidak mempermasalahkan apakah pengalaman yang didapat di Jepang bisa diterapkan di negaranya setelah kembali dari Jepang atau tidak, karena mereka berpikir tinggal di Jepang untuk bekerja. Karena peserta magang dijamin memiliki upah minimum yang sama atau lebih tinggi dari orang Jepang, maka jika sedang magang di lokasi yang layak, bahkan jika telah mengurangi biaya sewa tempat tinggal dan asuransi, setidaknya para peserta magang bisa memiliki sisa uang sebanyak 100.000 yen per bulan. Gaji rata-rata untuk peserta magang adalah 156.900 yen per bulan (tidak termasuk kerja lembur dan bonus).

Dengan cara ini, sistem pelatihan/magang berfungsi sebagaimana mestinya, meskipun ada kesenjangan antara tujuan awal pelatihan dan persepsi para pekerja. Namun, seperti yang disebutkan dalam artikel, masalah seperti mempekerjakan peserta magang dengan upah rendah dan untuk waktu yang lama juga telah ditemukan di berbagai tempat. Intinya, terdapat banyak masalah yang ditimbulkan dari penerimaan pekerja asing di Jepang.

Penting untuk Menciptakan Lingkungan Agar Peserta Magang Dapat Bekerja dengan Tenang dan Nyaman

Pada Juni 2019, tercatat sekitar 190.000 orang Vietnam, diikuti oleh orang China, Filipina, dan Indonesia di urutan ke empat, yang menjadi peserta magang di Jepang, sehingga total terdapat sekitar 30.000 peserta magang. Meskipun jumlahnya tergolong kecil dibandingkan dengan Vietnam, sepertinya jumlah pekerja magang dari Indonesia akan meningkat di masa depan.

Kemudian, jumlah pekerja asing dengan keterampilan khusus juga akan meningkat. Jika ingin menerima ratusan ribu orang asing, menurut aku, Jepang harus mempersiapkan berbagai hal seperti lingkungan kerja, lingkungan hidup, sistem, termasuk persiapan dari keseluruhan masyarakat Jepang terhadap penerimaan pekerja asing.

Namun, sayangnya, kita masih mendengar berita tentang perlakuan yang buruk dari perusahaan terhadap peserta magang, sehingga sering terjadi kasus mengenai hilangnya peserta pelatihan, dan situasi bahwa kita belum mampu menghilangkan para perantara buruk yang banyak mengambil keuntungan mungkin masih terus berlanjut. Aku khawatir, jika hal-hal seperti itu terus terjadi, Jepang nantinya mungkin tidak dipilih lagi sebagai tujuan tempat kerja oleh para pekerja asing.