Dengan berkurangnya jumlah anak-anak dan tingginya persentase lansia, Jepang menjadi masyarakat lansia dengan tingkat kelahiran yang rendah. Jika jumlah anak-anak berkurang, maka jumlah pekerja pun akan berkurang. Akan tetapi, pekerjaan untuk memajukan kehidupan masyarakat tidak berkurang dengan mudah. Oleh karena itu, muncullah masalah kekurangan tenaga kerja.

Seberapa seriuskah masalah kekurangan tenaga kerja di Jepang? Bagaimanakah keseimbangan pencari kerja dan penyedia lapangan kerja?

Kali ini saya akan menjelaskan keadaan pasar tenaga kerja di Jepang.

Sponsor LINK

Situasi Kurangnya Tenaga Kerja di Perindustrian Jepang berdasarkan Jumlah

Tingkat Pengangguran dan Rasio Lowongan Kerja yang Tersedia

Sepuluh tahun yang lalu setelah krisis global akibat kebangkrutan Lehman Brothers, tingkat pengangguran di Jepang mengalami penurunan yang sangat pesat. Pada tahun 2009, rata-rata pengangguran tahunan mencapai 5.1 kali lipat, tetapi pada tahun 2019 menjadi 2.4 kali lipat. Jumlah karyawan mencapai jumlah tertinggi selama 2 tahun berturut-turut, dan jumlah pengangguran mengalami penurunan selama 10 tahun berturut-turut.

Di sisi lain, tingkat ketersediaan lapangan kerja pada tahun 2019 sekitar 1.60 kali lipat. Setelah krisis Lehman tahun 2009, meskipun lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun mengalami kenaikan kurang lebih 3.4 kali lipat, jauh sekali jika dibandingkan 10 tahun lalu yang hanya 0.47 kali lipat.

・Rasio Pengangguran :
Persentase pengangguran (memiliki keinginan untuk bekerja tetapi tidak bekerja) berdasarkan populasi pekerja (Pekerja dan pengangguran yang berusia 15 tahun lebih).
・Rasio Ketersediaan Lapangan Kerja :
Jumlah pencari kerja di perusahaan dibagi dengan jumlah pekerja yang terdaftar di Badan Ketenagakerjaan Nasional.
Jika rasionya lebih dari 1 kali lipat artinya jumlah lowongan pekerjaan lebih banyak dibandingkan jumlah pencari kerja. Akan tetapi, karena jumlah pencari kerja tidak termasuk pencari kerja yang tidak terdaftar di Badan Ketenagakerjaan dan mahasiswa yang baru lulus dari universitas, maka jumlah rasio sebenarnya mungkin akan sedikit lebih rendah.

Hubungan antara Rendahnya Tingkat Kelahiran dan Kurangnya Tenaga Kerja

Ada beberapa penyebab mengapa perindustrian Jepang kekurangan tenaga kerja. Misalnya, setelah resesi ekonomi yang berjalan kurang lebih selama 20 tahun, keadaan ekonomi semakin membaik dan perusahaan meningkatkan jumlah karyawannya. Akan tetapi, penyebab yang paling utama adalah populasi lansia akibat rendahnya tingkat kelahiran.
https://kepojepang.com/penyebab-penurunan-angka-kelahiran/
Jika hanya rendahnya tingkat kelahiran dan menurunnya jumlah populasi saja mungkin tidak akan muncul permasalahan kekurangan tenaga kerja. Namun, Jepang sudah menjadi masyarakat lansia karena persentase jumlah lansia yang hidup dengan uang pensiun (nenkin) semakin banyak. Oleh karena itu, muncul masalah di mana rasio jumlah orang yang bekerja dengan orang yang menerima subsidi tidak seimbang.

Pada tahun 2000, populasi umur produktif (15~64 tahun) berkisar 86.22 juta orang (67.9% dari jumlah populasi), namun pada tahun 2020 menjadi 73.41 juta orang (59.2% dari jumlah populasi), diperkirakan pada tahun 2050 akan mengalami penurunan menjadi 50.01 juta orang (51.6% dari jumlah populasi).

Populasi Pekerja Meningkat Sementara

Di sisi lain, populasi pekerja meningkat. Seperti yang sudah dijelaskan, populasi pekerja adalah orang-orang berumur 15 tahun ke atas yang bisa bekerja. Dengan kata lain, orang-orang yang termasuk ke dalam populasi umur produktif kecuali mereka yang tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan. Walaupun angkanya mengalami penurunan, mengapa populasi pekerja meningkat? Hal ini disebabkan peran wanita dan lansia berkembang pesat dalam kehidupan masyarakat.

Untuk mengatasi kurangnya tenaga kerja, perusahaan mulai merekrut wanita dan orang tua, serta semakin banyak perusahaan yang menerapkan sistem dan lingkungan kerja di mana para wanita yang sedang mengurus anak-anak dan orang tua yang sudah pensiun bisa bekerja dengan tenang.

Beberapa tahun terakhir, wanita yang bekerja di industri yang didominasi pria seperti konstruksi, transportasi, kepolisian, pemadam kebakaran, badan keamanan dan sebagainya mengalami peningkatan. Selain itu, ada juga perusahaan yang memberikan waktu kerja yang fleksibel sehingga bisa antar jemput anak, bahkan beberapa perusahaan menyediakan pusat penitipan anak di kantor.

Begitu pun dengan para lansia, jika ingin bekerja maka masih bisa bekerja. Misalnya, ada beberapa jenis pekerjaan, seperti jam kerja lebih pendek atau kerja paruh waktu, bisa bekerja sesuai dengan kecepatan diri sendiri, bahkan jika tidak bekerja sehari 8 jam, 5 hari dalam seminggu pun akan membantu para lansia untuk mendapatkan pekerjaan. Orang-orang yang mengkhawatirkan kemampuan fisik mereka atau mereka yang sebenarnya tidak perlu bekerja karena mampu secara ekonomi pun bisa lebih mudah mengambil pekerjaan paruh waktu sesuai dengan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan mereka.

Dengan kata lain, karena populasi usia produktif menurun maka populasi pekerja akan mengalami peningkatan.

Bermacam-macam Penyebab Kurangnya Tenaga Kerja di Setiap Industri

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, pasar tenaga kerja di Jepang mengalami peningkatan permintaan karena pemulihan ekonomi dan rendahnya angka kelahiran serta meningkatnya populasi lansia yang menyebabkan lebih sedikitnya anak muda. Akan tetapi, tidak hanya itu, karena masing-masing industri memiliki persyaratan tertentu.

Misalnya, industri konstruksi yang memiliki masalah paling serius dalam kekurangan tenaga kerja, permintaan terhadap industri ini meningkat pasca gempa besar di wilayah Tohoku pada tahun 2011, meningkatnya permintaan perbaikan rumah dan jalan yang rusak akibat gempa bumi dan hujan lebat. Selain itu, industri transportasi kekurangan staf pengiriman karena meningkatnya pembelanjaan online. Ada berbagai macam masalah yang berbeda berdasarkan masing-masing industri dan perusahaan, seperti jam kerja yang panjang, kerja lembur yang tidak digaji, gaji yang rendah atau masalah dengan budaya perusahaan dan hubungan para karyawan di tempat kerja.
https://kepojepang.com/penyebab-kurangnya-tenaga-kerja/

Penanggulangan Kurangnya Tenaga Kerja di Perindustrian Jepang

Di Jepang, perusahaan dan setiap industri mengambil beberapa langkah untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja.

Misalnya, sangat penting untuk melakukan perubahan secara internal, seperti meningkatkan kesejahteraan karyawan, meningkatkan pendapatan, mengurangi lembur, menawarkan cuti berbayar dan memperkenalkan pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Ketika melakukan perekrutan pun, mempromosikan lowongan pekerjaan dengan menggunakan SNS, magang untuk mahasiswa sebelum lulus dan perekrutan yang menargetkan wanita yang telah berhenti bekerja setelah melahirkan.

Pemerintah sendiri memberikan dukungan seperti menyediakan layanan konsultasi untuk meningkatkan manajemen ketenagakerjaan, menyesuaikan pekerjaan yang tersedia dengan jumlah pencari kerja, mengoreksi jam kerja panjang dan memberikan subsidi untuk mengembangkan sumber daya manusia.

Kesimpulan

Rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya populasi lansia menyebabkan berbagai macam masalah. Salah satunya adalah kekurangan tenaga kerja. Sayangnya sulit untuk menghentikan tingkat kelahiran yang terus menurun.
https://kepojepang.com/empat-kebijakan-pemerintah-jepang-untuk-mengatasi-rendahnya-angka-kelahiran/
Tentunya sulit untuk meningkatkan jumlah anak-anak dalam waktu yang cepat, oleh karena itu diperlukan solusi lain untuk mengatasi masalah ini. Masing-masing industri dan perusahaan dihadapkan dengan tantangan agar karyawan yang ada tidak berhenti, selain itu mereka juga berusaha merekrut orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan atau masih membutuhkan pekerjaan.