Simak salah satu tata bahasa Jepang yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yuk!

“Karendaa wa kabe ni kakete aru”.

Apa kalian tahu arti kalimat di atas? Kalimat itu berarti “Kalender tergantung di tembok”.

Dalam percakapan sehari-hari, kita akan menemui situasi ketika ingin mengungkapkan kalimat yang menyatakan suatu keadaan yang sudah dan sedang terjadi, yang dilakukan seseorang dengan sengaja. Untuk itu, kali ini mari belajar mengenai tata bahasa “te aru”.

Fungsi “te aru”

Pola kalimat

  • kata kerja bentuk “te” + “aru”

Penggunaan “te aru”

Pola “te aru” dalam bahasa Jepang digunakan untuk menyatakan keadaan yang sudah dan sedang terjadi, dan tersirat makna yang kuat bahwa hal itu terjadi karena ada orang yang dengan sengaja melakukannya. Dalam bahasa Indonesia, pola kalimat ini memiliki fungsi yang sama dengan imbuhan “ter..” atau “di..kan”, dan bisa diartikan “dalam keadaan..”.

Pola ini menggunakan kata kerja transitif bentuk “te”, yang kemudian ditambahkan kata “aru”. Jika ingin mengungkapkan bentuk sopan, maka kita hanya perlu menggantinya menjadi “te arimasu”, dan demikian pula untuk variasi ungkapan lainnya.

Lalu apa perbedaan pola “te aru” dengan kata kerja pada umumnya? Coba ambil contoh kata “kakeru” dan “kakete aru”. Kata “kakeru” berarti “menggantung”, sedangkan “kakete aru” berarti “tergantung”.

Contoh perubahan kata kerja menjadi bentuk “te” 

(selengkapnya silakan lihat artikel Daftar Perubahan Kata Kerja ini)

a.Kelompok 1 (berakhiran u, ku, su, tsu, nu, bu, mu, gu, ru)

  • u menjadi tte : kau (membeli) = katte
  • ku menjadi ite* : oku (meletakkan) = oite
  • su menjadi shite : kakusu (menyembunyikan) = kakushite
  • tsu menjadi tte : matsu (menunggu) = matte
  • nu menjadi nde : shinu (mati) = shinde
  • bu menjadi nde : narabu (berjejer) = narande
  • mu menjadi nde : yomu (membaca) = yonde
  • gu menjadi ide : kogu (mengayuh) = koide
  • ru menjadi tte : haru (menempel) = hatte

*pengecualian untuk kata iku (pergi)= itte (meski berakhiran ku, khusus kata ini, akan berubah menjadi itte)

b.Kelompok 2 (berakhiran eru dan iru)

  • eru menjadi ete : shimeru (menutup) = shimete
  • iru menjadi ite : miru (melihat) = mite

c.Kelompok tidak beraturan (berakhiran suru dan kata kuru)

  • suru menjadi shite : shoukai suru (memperkenalkan) = shoukai shite
  • kuru (datang) = kite

Contoh kalimat

Untuk bisa lebih mudah memahami pola ”te aru”, mari lihat contoh kalimat berikut ini.

Asoko ni “kin’en” to kaite arimasu. “Tabako wo sutte wa ikemasen” to iu imi desu.
Keijiban ni iro-iro na saakuru no chirashi ga hatte arimasu.
Sara ga zenbu aratte arimasu.
Okyaku-san no bun wa, mou ano kata ni oshiharai itadaite arimasu
Kanojo no tsukue no ue ni bara no hana to chokoreeto ga oite arimasu.
Ie no denki ga tsukete arimasu.
Suupu ga atatamete aru naa. Otousan ga yatte kureta no kana?
Teeburu ni osara ga kirei ni narabete aru.
Asagohan ga youi shite aru kara, atatametakattara, ano denshi renji wo tsukatte ne.
Meccha ii nioi no kukkii ga yaite aru.

Contoh soal

Pola “te aru” tergolong dalam tata bahasa JLPT N4. Untuk itu, coba perhatikan juga latihan soal di bawah ini yang modelnya serupa dengan soal JLPT N4.

Soal 1 : まどが______あります。
  1. しめて
  2. しまって
  3. しまり
  4. しめ
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 2 : テーブルの上に、さらとコップが______あります。
  1. ならんで
  2. ならべて
  3. ならいで
  4. ならけて
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 3 : このもんだいのこたえはつぎのページに______。
  1. かいてあります
  2. かいてです
  3. かいます
  4. かいてありです
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 4 : ドアが______あります。
  1. あく
  2. あける
  3. あいて
  4. あけて
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 5 : れいぞうこにケーキが______ある。
  1. おりて
  2. おって
  3. おいて
  4. おきて
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 6 : かべにポスターが______ある。
  1. はりて
  2. はって
  3. はかて
  4. はかりて
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 7 : おゆはもう______あるよ。
  1. わかいて
  2. わかりて
  3. わかって
  4. わかして
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 8 : きれいなえがいえのかべに______ある。
  1. かきて
  2. かかて
  3. かけて
  4. かかって
klik di sini untuk melihat jawabannya

Informasi tambahan

Apa perbedaan pola “te aru” dengan kata kerja intransitif?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, pola “te aru” digunakan untuk menjelaskan suatu keadaan yang telah dan sedang terjadi, yang terdapat makna bahwa hal itu sengaja dilakukan oleh seseorang, sedangkan kalimat dengan kata kerja intransitif hanya menjelaskan suatu keadaan, tanpa ada makna lainnya.

Misalnya adalah :

  • Doa ga shimete aru. (Pintunya tertutup : menjelaskan bahwa penutur menduga bahwa ada orang lain yang sengaja menutup pintu, sehingga kini pintu dalam keadaan tertutup)
  • Doa ga shimatte iru. (Pintunya tertutup : hanya menjelaskan keadaan bahwa pintu tertutup)

Contoh lain adalah :

  • Karendaa ga kabe ni kakete aru. (Kalendernya tergantung di tembok : menjelaskan bahwa penutur menduga bahwa ada orang lain yang sengaja menggantung kalender di tembok, sehingga kini kalender dalam keadaan tergantung di tembok)
  • Karendaa ga kabe ni kakatte iru. (Kalendernya tergantung di tembok : hanya menjelaskan keadaan bahwa kalender tergantung di tembok)

Kesimpulan

Bagaimana teman-teman? Apakah sudah bisa memahami fungsi dari tata bahasa “te aru”?

Pola “te aru” merupakan ungkapan menyatakan keadaan yang sudah dan sedang terjadi dalam bahasa Jepang, dan dalam pola ini tersirat makna yang kuat bahwa hal itu terjadi karena ada orang yang sengaja melakukannya. Dalam bahasa Indonesia seperti imbuhan “ter..”atau “di..kan”, dan dapat diartikan “dalam keadaan..”.

Semoga informasi yang dibagikan kali ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai bahasa Jepang ya! Jangan lupa untuk ikuti terus berbagai informasi seputar Jepang dari Kepo Jepang!

Sambil mengingat materi kali ini, coba lihat kembali pertanyaan terkait tata bahasa “te aru” di bawah ini!

Q)Apa fungsi tata bahasa “te aru”?

A)“Te aru” digunakan untuk menyatakan keadaan yang sudah dan sedang terjadi, yang sengaja dilakukan oleh seseorang.

Q)Apa arti “te aru”?

A)“Te aru” bisa diartikan seperti imbuhan “ter”, “di..kan”, atau “dalam keadaan..”.

Q)Bisa berikan contoh kalimat dengan pola “te aru”?

A)Misalnya “posutaa ga kabe ni hatte aru”, yang artinya “posternya tertempel di tembok”.

Kembali ke halaman daftar Materi Tata Bahasa N4

Kali ini kita sudah belajar pola “te aru”. Bagaimana menurut kalian? Semoga mudah dipahami ya. Karena masih ada tata bahasa lainnya yang perlu diperlajari, coba cek informasi lainnya di sini yuk!