Q) Kapan waktu penggunaan perubahan kosakata saat membuat kalimat?

A) Dalam bahasa Jepang terdapat berbagai bentuk perubahan kosakata, baik kata kerja maupun kata sifat. Saat ingin mengungkapkan kalimat lampau, maka kita perlu menggunakan bentuk lampau (kata kerja : mashita, kata sifat i : katta desu, kata sifat na / kata benda : dewa arimasen deshita, dan lain-lain). Misalnya, untuk kata kerja positif “watashi wa sushi wo tabemasu” (saya makan sushi), kata kerja negatif “watashi wa sushi wo tabemasen” (saya tidak makan sushi), kata kerja positif lampau “watashi wa sushi wo tabemashita” (saya makan sushi (keterangan lampau)), dan kata kerja negatif lampau “watashi wa sushi wo tabemasen deshita” (saya tidak makan sushi (keterangan lampau)).  Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai perubahan kata kerja, silahkan lihat artikel ini. Contoh lain, untuk kata sifat i positif “kono ryouri wa oishii desu” (masakan ini enak), kata sifat i negatif “kono ryouri wa oishikunai” (masakan ini tidak enak), kata sifat i positif lampau “kinou no ryouri wa oishikatta desu” (masakan kemarin enak), negatif lampau “kinou no ryouri wa oishikunakatta desu” (masakan kemarin tidak enak). Contoh untuk kata sifat na positif “watashi wa ano hito ga suki desu” (saya suka orang itu), kata sifat na negatif “watashi wa ano hito ga suki dewa arimasen” (saya tidak suka orang itu), kata sifat na positif lampau “watashi wa ano hito ga suki deshita” (saya suka orang itu (tetapi itu dulu)), negatif lampau “watashi wa ano hito ga suki dewa arimasen deshita” (saya tidak suka orang itu (tetapi itu dulu)). Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai perubahan kata sifat, silahkan lihat artikel ini. Jika ingin melihat berbagai contoh kalimat dengan berbagai bentuk tata bahasa, silakan lihat artikel materi tata bahasa ini.

Coba cek pertanyaan-pertanyaan lain!

Q) Bagaimana rumus menyusun dan mengartikan bahasa jepang?

A) Sama halnya dengan kalimat bahasa Indonesia, kalimat bahasa Jepang pun terdiri dari subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K). Keberadaan jenis-jenis kata inilah yang akan mempengaruhi susunan penerjemahan.Berbeda dengan kalimat bahasa Indonesia yang dasarnya berpola SPOK, kalimat bahasa Jepang selalu meletakkan PREDIKAT DI AKHIR. Jadi SOK secara fleksibel bisa diletakkan di depan predikat.Sebagai contoh : Watashi wa (S) gakusei (P) = Saya pelajar. / Watashi wa (S) sushi wo (O) tabemasu (P) = Saya makan sushi. / Kare wa (S) gakkou de (K) nihongo wo (O) benkyoushiteimasu (P) = Dia belajar bahasa Jepang di Sekolah. / Sushi wa (S) oishii desu (P) = Sushi enak. Dengan melihat contoh-contoh ini, bisa disimpulkan, rumus menerjemahkan bahasa Jepang ke bahasa Indonesia adalah : SP -> SP / SOP -> SPO / SKOP -> SPOK. Untuk contoh-contoh pola kalimat lain bisa kalian lihat halaman ini ya.

Q) Bagaimana bahasa Jepangnya perhitungan, contoh : 2+2=4, 2-2=0, 2×2=4 dengan 2:2=1?

A) Bahasa Jepang perhitungan untuk tanda “tambah” (+) adalah “tasu”, “kurang” (-) adalah “hiku”, “kali” (x) adalah “kakeru”, dan “bagi” (:) adalah “waru”. Selengkapnya silahkan lihat halaman ini ya. 

Q) Kak bahasa Jepangnya “kamu yang terbaik” apa kak?

A) Bahasa Jepangnya “kamu yang terbaik” adalah “anata wa saikou desu”. Selain itu, bisa juga menggunakan “ichiban” atau “subarashii”. Penjelasan lengkapnya bisa kamu lihat di halaman ini ya.