Kuru – Kimasu – Kimashita

Ketiga kata di atas dalam bahasa Indonesia diartikan “datang” atau “tiba”, tetapi masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda.

Seperti yang kalian ketahui, kata kerja dalam bahasa Jepang mengalami perubahan makna yang disesuaikan dengan waktu kejadian, seperti waktu sekarang atau lampau. Namun, bukan hanya waktu kejadian saja, perubahan kata kerja juga dipengaruhi oleh situasi, seperti kimasen yang mengungkapkan situasi “negatif” (tidak datang).

Artikel ini akan membahas perubahan-perubahan dari kata kerja kuru yang akan mudah kalian pahami melalui contoh-contoh yang akan diberikan di akhir kalimat. Untuk memahaminya lebih lanjut, simak bagaimana penggunaan kata kerja kuru melalui penjelasan di bawah ini. Jangan lupa tonton juga video penjelasannya ya!

 PenjelasanKuru

Secara sederhana “kuru” dalam bahasa Indonesia bisa diartikan datang, tiba dan mengunjungi. Kata “kuru” merupakan kata kerja bentuk dasar/kamus yang termasuk ke dalam kata kerja golongan ke-3, disebut juga fukisokudoushi atau kata kerja tidak beraturan. Disebut tidak beraturan karena kata kerja ini mengalami perubahan yang tidak beraturan, tergantung dari keterangan waktu dan keadaan.

Perubahan Bentuk Kata Kerja “Kuru

Berbeda dengan kata kerja golongan 1 dan 2 yang memiliki pola perubahan, kata kerja golongan 3 tidak memiliki ciri khusus dalam perubahan bentuknya.

Bentuk Dasar

Jisho-kei (Bentuk Dasar/Kamus)Nai-kei (bentuk menyangkal, negatif)
来る(く・る)来ない(こ・ない)
kurukonai

Masu-kei (Kata kerja bentuk sopan / formal)

Masu-kei (+)Masu-kei (-)
来ます(き・ます)来ません(き・ません)
kimasukimasen

Ta-kei  (Kata kerja bentuk lampau)

Ta-kei (+)Ta-kei (-)
来た(き・た)来なかった(こ・なかった)
kitakonakatta

Bentuk Lampau Masu-kei (Kata kerja bentuk sopan / formal)

Masu-kei Lampau (+)Masu-kei Lampau (-)
来ました(き・ました)来ませんでした(き・ませんでした)
kimashitakimasendeshita

Te-kei (Kata kerja bentuk sambung)

kuru → kite

Ta-kei merupakan bentuk biasa, digunakan untuk kalimat kasual atau non-formal, atau ketika di simpan di tengah kalimat dan dijadikan sebagai konjungsi yang dihubungkan dengan kata dan kalimat lain.

Dikatakan sebagai kata kerja bentuk sambung, karena kata kerja bentuk te/de ini bisa digunakan untuk membuat berbagai bentuk variasi kalimat, kata kerja bentuk te/de sendiri tidak memiliki arti khusus, tetapi jika kata-kata lain disambungkan dengan te-kei maka kata kerja ini akan memiliki makna.

Perubahan lain yang terjadi pada kata kerja kuru adalah :

Bentuk Potensial (bisa, mampu)
Bentuk DasarNai-keiMasu-kei (+)Masu-kei (-)Te-kei
来られる (こ・られる)来られない (こ・られない)来られます (こ・られます)来られません (こ・られません)来られて (こ・られて)
korarerukorarenaikoraremasukoraremasenkorarete
Bentuk Kondisional (syarat)
Bentuk DasarNai-kei
来れば (く・れば)来なければ (こ・なければ)
kurebakonakereba
Bentuk Ajakan (maksud, kehendak)
Bentuk Dasar KasualBentuk Formal
来よう (こ・よう)来ましょう (き・ましょう)
koyoukimashou
Bentuk Pasif (di-)
Bentuk DasarNai-keiMasu-kei (+)Masu-kei (-)Te-kei
来られる (こ・られる)来られない (こ・られない)来られます (こ・られます)来られません (こ・られません)来られて (こ・られて)
korarerukorarenaikoraremasukoraremasenkorarete
Bentuk Ingin Melakukan
Bentuk PositifNai-kei
来たい (き・たい)来たくない (き・たくない)
kitaikitakunai
Bentuk Perintah
Bentuk Dasar KasualBentuk Formal
来い (こ・い)来なさい (き・なさい)
koikinasai
Bentuk Larangan Non-Formal (Jangan….!/ Dilarang….!)
Bentuk Dasar KasualBentuk Lebih Sopan
来るな (く・るな)来てはいけません (き・てはいけません)
kurunakite wa ikemasen

Pola Kalimat Dasar

UNSUR + PARTIKEL (ga, wo, ni, de, dan sebagainya) + PREDIKAT
*UNSUR terdiri dari : subjek, objek, keterangan atau topik
*PARTIKEL : menunjukkan hubungan antara unsur-unsur dengan predikat (kata kerja) 
*PREDIKAT : kata kerja, akhiran disesuaikan dengan keterangan waktu dan keadaan (negatif, lampau, formal atau kasual)

Umumnya kata kerja yang berlaku sebagai predikat dalam struktur kalimat bahasa Jepang disimpan di akhir kalimat.

Sebelum lanjut memahami lewat contoh-contoh kalimat di bawah, yuk simak infomasi di bawah ini.

Kata kerja “kuru (datang)” termasuk ke dalam kata kerja golongan berapa?

Kuru (datang) termasuk ke dalam kata kerja golongan ke-3, atau disebut juga fukisoku-doushi, di mana bentuk perubahannya tidak beraturan (tidak memiliki pola).

Apa fungsi kata kerja bentuk te (kite)?

Kata kerja bentuk te (kite) digunakan sebagai konjungsi yang dihubungkan dengan kata dan kalimat lain, sehingga membentuk ungkapan dengan makna baru. Misalnya, kite kudasai (silakan datang).

Contoh Kalimat

Lalu, gimana contoh penggunaanya. Biar lebih jelas yuk kita lihat contoh berikut.

Raishuu, sensei wa Tokyo ni kimasu.
Ryouri ga kimashita.
Kanojo wa Indonesia kara kimashita.
Natsu yasumi ga kita.
Watashi wa tomodocahi to yoku koko ni kuru.
Kinou, kare wa konakatta.
Kanojo wa raishuu no paatii ni kimasen.
Kyonen, otouto wa nihon e nihon-go wo benkyoushi ni kimashita.
Osokute mo kamaimasen kara, paatii ni kite kudasai.
Michiko-san wa ashita no jugyou ni konai to itteimasu.

Kesimpulan

Sebagai kata kerja yang perubahannya tidak beraturan, mau tidak mau bentuk perubahannya harus kalian hafal. Perubahan bentuk kata kerja dalam bahasa Jepang sangatlah penting kalian ingat karena setiap bentuk perubahan akan mengubah nuansa dan makna dari kalimat tersebut. Tentu saja dengan terus berlatih, perbedaan perubahan kata kerja dalam bahasa Jepang ini akan semakin kalian pahami dengan mudah.

Semoga penjelasan tentang perubahan bentuk kata kerja kuru di atas bisa dimengerti dengan mudah ya. Jangan lupa untuk terus berlatih agar semakin lancar bahasa Jepangnya dan ikuti terus informasi seputar bahasa Jepang dan Jejepangan lainnya, hanya di Kepo Jepang!