Simak salah satu tata bahasa Jepang yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yuk!

“Ame ga futtara, shiai wa chuushi ni narimasu.”

Apa kalian tahu arti kalimat tersebut? Kalimat itu artinya “kalau turun hujan, pertandingan akan dibatalkan”.

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering menggunakan kata “kalau”. Untuk itu, kali ini mari belajar mengenai tata bahasa “tara”.

Fungsi “tara”

Pola kalimat

  • Kata kerja bentuk lampau (ta) + ra
  • Kata sifat i lampau (katta) + ra
  • Kata sifat na lampau (datta) + ra
  • Kata benda lampau (datta) + ra

Penggunaan “tara”

Pola “tara” dalam bahasa Jepang digunakan untuk menyatakan berbagai hal untuk suatu pengandaian. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia pola ini umumnya bisa diartikan “kalau”. Penggunaannya bisa dibagi menjadi enam, yaitu :

1. Syarat berupa suatu pengandaian / asumsi jika suatu hal terjadi

Pola ini banyak yang diawali dengan kata “moshi” (lihat penjelasan “moshi” lebih lengkap), sebagai penekanan untuk menyatakan “seandainya” atau “kalau”. Karena berupa asumsi, maka saat pola ini disampaikan, kita tidak tahu apakah kalimat pertama benar terjadi atau tidak.

2. Syarat berupa suatu hal yang pasti terjadi, yang diikuti suatu keinginan, ajakan, atau perintah

Pola ini diawali dengan menyampaikan suatu syarat atau keterangan akan suatu hal yang dianggap pasti terjadi, yang kemudian diikuti suatu keinginan, ajakan, atau perintah.

3. Sebagai penghubung kalimat (setelah / saat)

Pola ini berfungsi sebagai penghubung kalimat yang menyatakan setelah suatu hal selesai dilakukan atau terjadi, maka hal lain akan dilakukan atau akan terjadi. Oleh karena itu, pola ini bisa diartikan atau “setelah”. Selain itu, bisa juga menunjukkan hal yang terjadi ketika setelah melakukan suatu hal lain, sehingga bisa diartikan “saat”. Sekilas terkesan mirip dengan fungsi yang nomor 2, tetapi kalimat pertama di pola ini bukan berupa suatu syarat.

4. Menunjukkan suatu hal yang baru diketahui / di luar dugaan

Pola ini menunjukkan suatu penemuan akan suatu hal karena baru diketahui dan di luar dugaan, sehingga bisa juga dianggap menunjukkan hal yang mengejutkan. Pola ini akan menggunakan pola kalimat lampau (bentuk ta) di akhir kalimat karena digunakan pada hal yang sudah terjadi. Pola ini juga bisa diartikan “saat” atau “setelah”.

5. Sebagai suatu saran / partikel akhir kalimat

Pola “tara” digunakan di akhir kalimat sebagai partikel, untuk menunjukkan saran terhadap suatu hal.

6. Menunjukkan suatu ungkapan yang telah ada

Pola ini bisa dikatakan merupakan suatu ungkapan yang telah ada, yang memiliki arti tersendiri. Misalnya kata “moshikashitara~” yang artinya “mungkin saja~”, “yokattara~” yang berarti “kalau berkenan/bersedia~”, serta pola “~tara ii desuka?” yang digunakan untuk menanyakan saran.

Contoh kalimat

Untuk bisa lebih mudah memahami pola ”tara”, mari lihat contoh kalimat berikut ini.

1. Syarat berupa suatu pengandaian / asumsi jika suatu hal terjadi

Moshi ashita jikan ga attara, mata denwa shimashou.
Jishin ga kitara, kono ie wa kuzurechau kamoshirenai.
Moshi suki na hito ni furaretara, dou suru?
Korona ga osamattara, nani wo shitai desuka?
Ame ga furanakattara, ano ibento ni asobi ni ikitai.
Nyuujouryou ga takakattara, ikimasen.
Ano machi wa benri dattara, itte mitai desu.
Ame dattara, soto ni denai.

2. Syarat berupa suatu hal yang pasti terjadi, yang diikuti suatu keinginan, ajakan, atau perintah

Yasumi ni nattara, isshoni ryokou ni ikimashou.
Kongetsubun no kyuuryou wo morattara, oshare na hoteru ni tomari ni iku tsumori da.
Daigaku wo sotsugyou shitara, ano kaisha de hatarakitai desu.
Ashita Yamada-sensei ni attara, yoroshiku tsutaete kudasai.
Ku-gatsu ni nattara, nihon ni iku yotei da.
Juuichi-ji ni nattara, tesuto wa owari desu.
Haru ni nattara, sakura no hana ga sakimasu.

3. Sebagai penghubung kalimat (setelah / saat)

Meeru wo yondara, sugu ni henshin shimasu.
Mado wo aketara, kaze ga haitte kita.
Tabeowattara, kaisha ni modorimasu.
Jugyou ga owattara, sugu ni kaerimasu.
Hontou no koto wo ittara, tomodachi ni warawareta.
Ie de ryouri wo tsukutte itara, nimotsu ga todoita.

4. Menunjukkan suatu hal yang baru diketahui / di luar dugaan

Yoru ku-ji kurai ni ano mise ni ittara, mise wa mou shimatte ita.
Kinou, ano mise no karai ryouri wo tabetara, onaka ga itakunatta.
Yasai wo kattara, mushi ga ita.
Musuko wa kekkon shitara, seikaku ga kawatta.
Kinou, ano resutoran ni haittara, guuzen kare ni atta.

5. Sebagai suatu saran / partikel akhir kalimat

A : Saikin chotto futotte kita kamo.
B : Yasai wo takusan tabetara?
A : Zutto suwatte, pasokon wo mite iru kara, kata ya koshi ga kotte iru.
B : Undou shitara?
A : Atama ga itai na.
B : Kono kusuri wo nondara?
A : Watashi, kaze wo hiiteru no.
B : Yukkuri yasundara?

6. Menunjukkan suatu ungkapan yang telah ada

Moshikashitara, kare wa Aya-chan no koto ga suki kamoshirenai.
Yokattara, kondo isshoni eiga wo mi ni ikimasenka?
Eki e ikitain desu ga, dou shitara ii desuka?
Gomi wa doko ni sutetara ii desuka?

Contoh soal

Pola ini tergolong dalam tata bahasa JLPT N4. Untuk itu, coba perhatikan juga contoh soal JLPT yang menggunakan pola ini, seperti pada contoh berikut ini.

Soal 1 : つかれ____、いってください。
  1. だら
  2. たら
  3. たったら
  4. だったら
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 2 : あのみせのかばんはやす____、かいます。
  1. かったら
  2. いたら
  3. くなたら
  4. たら
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 3 : ことばのいみが____、じしょでしらべてください。
  1. わからなったら
  2. わからかったら
  3. わからなかったら
  4. わかなかったら
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 4 : あとでえきに____、れんらくしてください。
  1. つったら
  2. ついたら
  3. つったら
  4. つきたら
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 5 : はちじに____、いえをでます。
  1. なるたら
  2. なりたら
  3. なたら
  4. なったら
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 6 : あのりょうりは____かったら、たべたくないです。
  1. から
  2. からい
  3. からく
  4. からくて
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 7 : もし____ ____、__☆__ ____しますか。
  1. あったら
  2. なに
  3. いちおくえん
klik di sini untuk melihat jawabannya

Soal 8 : にほんごが____、____ __☆__ ____せいかつはふべんかもしれない。
  1. にほん
  2. できなかったら
klik di sini untuk melihat jawabannya

Informasi tambahan

Bagaimana perbedaan “to”, “ba”, “tara”, dan “nara”?

Keempat tata bahasa ini memiliki arti yang cenderung sama dalam bahasa Indonesia, yaitu “kalau”, karena digunakan untuk menyatakan suatu syarat. Akan tetapi, dalam bahasa Jepang, keempat tata bahasa tersebut memiliki persamaan dan perbedaan, sehingga ada tata bahasa tersebut yang bisa saling menggantikan, dan ada pula yang sama sekali tidak bisa menggantikan pola lain. Secara singkat, perbedaannya adalah (tanda ○ bisa digunakan, tanda × tidak bisa digunakan) :

Fungsi “to”

Pola “to” digunakan untuk hal yang pasti terjadi. Oleh karena itu, pola ini tidak bisa diikuti dengan suatu perintah, ajakan, atau keinginan. Misalnya :

  • ○ Haru ni naru to, sakura ga sakimasu. (kalau musim semi, bunga sakura akan bermekaran.)
  • × Moshi ichioku-en aru to, nani wo shitai desuka?

Fungsi “ba”

Pola “ba” juga bisa digunakan menyatakan hal yang pasti terjadi. Selain itu, bisa juga digunakan untuk suatu asumsi akan perkiraan suatu hal (tetapi belum tahu apakah akhirnya terjadi atau tidak), sehingga bisa saling menggantikan dengan pola “tara”. Namun, pola ini tidak bisa dipakai untuk perintah.

  • ○ Haru ni nareba, sakura ga sakimasu. (kalau musim semi, bunga sakura akan bermekaran.)
  • ○ Moshi ichioku-en areba, nani wo shitai desuka? (kalau seandainya punya 100.000.000 yen, mau melakukan apa?)
  • × Konbini e ikeba, gyuunyuu wo katte kudasai.

Fungsi “tara”

Jika merupakan suatu asumsi (tetapi belum tahu apakah akhirnya terjadi atau tidak), bisa saling menggantikan dengan pola “ba”. Selain itu, pola ini bisa diikuti dengan suatu perintah atau ajakan.

  • ○ Moshi ichioku-en attara, nani wo shitai desuka? (kalau seandainya punya 100.000.000 yen, mau melakukan apa?)
  • ○ Konbini e ittara, gyuunyuu wo katte kudasai. (kalau pergi ke toserba, tolong beli susu.)

Fungsi “nara”

Pola “nara” mengandung makna bahwa terdapat suatu saran, perintah atau pemikiran dari pembicara. Misalnya :

  • ○ Oosaka e iku nara, okonomiyaki wo tabete mite kudasai. (kalau pergi ke Osaka, silakan coba makan Okonomiyaki.)

Untuk mengingat kembali lebih banyak mengenai fungsi setiap tata bahasanya, silakan lihat kembali setiap artikelnya ya!

Kesimpulan

Bagaimana teman-teman? Apakah sudah bisa memahami fungsi dari tata bahasa “tara”?

Pola “tara” dalam bahasa Jepang digunakan untuk menyatakan pengandaian, sehingga dalam bahasa Indonesia pola ini bisa diartikan “kalau”. Fungsinya ada enam, yaitu sebagai syarat berupa suatu pengandaian / asumsi jika suatu hal terjadi, syarat berupa suatu hal yang pasti terjadi, yang diikuti suatu keinginan, ajakan, atau perintah, sebagai penghubung kalimat (setelah / saat), untuk menunjukkan suatu hal yang baru diketahui / di luar dugaan, sebagai suatu saran / partikel akhir kalimat, serta untuk menunjukkan suatu ungkapan yang telah ada. Namun, perlu dipahami kembali bahwa untuk tata bahasa JLPT N4, yang umumnya digunakan adalah selain 2 fungsi terakhir.

Semoga informasi yang dibagikan kali ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai bahasa Jepang ya! Jangan lupa untuk ikuti terus berbagai informasi seputar Jepang dari Kepo Jepang!

Sambil mengingat materi kali ini, coba lihat kembali pertanyaan terkait tata bahasa Jepang di bawah ini!

Q)Apa fungsi tata bahasa “tara”?

A)Pola “tara” digunakan untuk menyatakan suatu pengandaian, sehingga berarti “kalau”.

Q)Bagaimana menyusun pola kalimat “tara”?

A)Menggunakan kata kerja lampau (bentuk ta) + ra, kata sifat i lampau (katta) + ra, kata sifat na lampau (datta) + ra, atau kata benda lampau (datta) + ra.

Q)Bisa berikan contoh kalimat dengan pola “tara”?

A) Misalnya “kanojo ni attara, yoroshiku tsutaete ne”, yang artinya “kalau bertemu dia perempuan, titip salam ya”.

Kembali ke halaman daftar Materi Tata Bahasa N4

Kali ini kita sudah belajar pola “tara”. Bagaimana menurut kalian? Semoga mudah dipahami ya. Karena masih ada tata bahasa lainnya yang perlu diperlajari, coba cek informasi lainnya di sini yuk!